Orang Cerdas Tidak Mudah Tertipu

Indra baru pertama kali menginjakkan kaki ke tanah leluhur nya di Tiongkok. Hati nya berbunga -bunga setibanya di bandara Shanghai karena ia merasa pulang kampung, kemanapun ia memandang di sana ia melihat wajah bulat dengan mata sipit sama seperti diri nya. Tukang jualan bakmi di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat ini berhasil menabung uang cukup untuk mengajak istri tercintanya, yang juga merangkap tukang racik bakmi andalan nya, jalan-jalan ke negeri Tiongkok.

Indra kagum dengan pembangunan yang massif saat ini di negeri nenek dan kakek nya, gedung-gedung tinggi dimana-mana, jauh dari bayangannya yang ia dapat dari cerita nenek nya yang susah tentang Tiongkok, waktu mengungsi ke Indonesia.

Sesungguhnya Tiongkok adalah negeri yang indah dengan peninggalan sejarah yang luar biasa dan masih terpelihara. Pemandangan alam, kemajuan teknologi dan pembangunan kota nya. Hanya ada satu hal yang kurang bisa dipahami Indra yakni ketika melalui tour guide nya ia ketahui bahwa orang Tionghoa di Tiongkok tidak beragama alias Atheis, mereka hanya percaya pada peraturan yang dibuat pemerintah.

Jadi bisa dibayangkan, kalau ada kecelakaan, korban nya tidak ada yang menolong, karena aturan nya menyatakan harus menunggu polisi datang. Jadi korban yang sekarat hanya jadi tontonan sampai ambulance datang.

Lebih parah lagi adalah adanya aturan bagi penabrak yang menyebabkan korban nya cacat, maka si penabrak harus menggantikan biaya hidup korban nya, seumur hidup. Kedengaran nya cukup adil, tetapi yang terjadi di jalan yang sepi, ketika terjadi kecelakaan, maka si penabrak yang takut harus menanggung biaya hidup korbannya, bisa-bisa akan memastikan korban nya mati saja dengan menabraknya lagi sampai mati. Serem sekali, bagaimana sebuah aturan bisa mencelakakan dengan sangat kejam.
Pengalaman pertama Indra belanja di pasar oleh-oleh di Shanghai ternyata tidak manis, karena permen yang ia sudah pilih ternyata ditukar oleh si ibu-ibu penjual nya dengan bungkus yang lain.
Kekecewaan Indra memuncak ketika mereka ikut tour ke salah satu toko obat yang menurut cerita guide nya, dikelola oleh pemerintah. Ternyata model business yang di awasi pemerintah ini tidak menjamin kepuasan konsumen.
Indra merasa para ‘dokter’ yang memberi konsultasi dengan ramah ternyata punya target penjualan obat setinggi-tinggi nya. Mereka punya banyak trik termasuk menuangkan semacam cairan ke tubuh calon pasien dan waktu di lap ternyata cairan itu berubah berwarna merah darah.

Indra langsung di vonis sang ‘dokter’, sakit ginjal dan pengerasan hati. Indra yang masih terkejut melihat banyak darah, menerima saja. Sang ‘dokter’ yang fasih berbahasa Indonesia ini kemudian membuat resep untuk ditebus di toko tersebut, dan untuk stock enam bulan kedepan. Indra pun menyerahkan kartu kredit nya tanpa protes. Maka melayang lah beberapa puluh juta siang hari itu dari kantong Indra.

Kekaguman saat pertama kali melihat Tiongkok pun runtuh dan sirna, pada saat ia akan pulang, berubah menjadi sakit hati karena bertubi-tubi Indra di bully dengan segala tipuan dan strategy dagang yang tanpa etika sebagian pekerja pariwisata di Tiongkok.

Pengalaman Indra mengingatkan saya pada sebuah buku berjudul ‘The Art of Thinking Clearly’ karangan Rolf Dobelli, dalam buku tersebut ada sebuah pertanyaan menarik:

  • Pernahkah anda menghabiskan waktu dengan susah payah untuk sesuatu hal yang akhirnya ternyata tidak berharga?
  • Pernahkah anda membeli sesuatu dengan harga yang berlebihan (terlalu mahal)?
  • Pernahkah anda berulang kali melakukan sesuatu yang sudah anda ketahui akan berakibat buruk buat anda?
  • Apabila jawaban nya ‘Ya’, maka anda sesungguh nya termasuk orang yang tidak dapat mengambil keputusan yang tepat.
Sekali lagi saya rekomendasikan buku ‘The Art of Thinking Clearly’ karangan Rolf Dobelli, karena isinya banyak nasehat yang bagus untuk kita agar bisa berhati-hati, bisa berfikir dengan cerdas dan tidak jadi korban.
Pengalaman Indra bisa diaplikasikan juga dalam sebuah bisnis. Dibalik ratusan start up yang sukses, berapa ribu dan berapa juta start up yang gagal. Jangan over estimate kesuksesan anda, belajarlah dari mereka yang gagal, latihan ini bisa membuat pikiran kita lebih jernih dan tidak jadi sombong.

Sekolah tinggi, penting, tetapi tidak menjamin anda sukses, karakter yang baik itulah yang membuat seseorang sukses. Maka lihatlah di cermin, kenali diri anda, apa karakter anda. Produk yang terjual terbanyak belum tentu adalah product yang lebih baik. Product yang lebih laku bisa di kalahkan kompetitor, tetapi product yang lebih baik, tidak bisa.
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakkan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan[Surat Al-Qasas 28:77]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *