Omah Parasit, Inovasi Pertanian Ramah Lingkungan

Hamparan tanaman padi di sawah itu tidak hanya tampak hijau. Tapi berwarna-warni. Penuh bunga: kuning dan orange. Ada pula warna pink.

Keindahan itu tercipta sejak ada ompara: omah parasit. Omah dalam bahasa Indonesia berarti rumah. Ompara merupakan inovasi pertanian ramah lingkungan yang sedang ngetren di Klaten, Jawa Tengah.

Bunga penangkap serangga parasit atau hama tanaman

Bunga-bunga itu sejatinya bukan untuk hiasan, melainkan tanaman penangkap serangga parasit atau hama tanaman utama. Saat bunga mekar, banyak serangga parasit tanaman padi yang tergoda. Harusnya menclok di padi. Eh, malah ngendon di bunga itu.

Sudah empat kali musim tanam padi, bunga-bungaan dimanfaatkan untuk ompara. Hasilnya sangat menggembirakan. Hama wereng yang selama ini menjadi musuh utama petani, bisa dikendalikan.

Meski bukan untuk hiasan, hamparan bunga di sepanjang pematang sawah itu menjadi pemandangan indah. Tak heran kalau setiap sore banyak anak muda yang selfie di sawah. Untuk update status di Instagramnya.

Slamet Widodo, tokoh masyarakat petani di Klaten menceritakan, saat ini penerapan konsep ompara sudah sangat luas. Sudah ribuan hektar. Bahkan sampai dibuat lomba tahunannya. Bupati yang memberikan hadiahnya.

Tidak hanya di Klaten, ompara malah lebih dulu popular di Lamongan, Jawa Timur. Khamim Asy’ari, pegiat pertanian ramah lingkungan di Lamongan, Jawa Timur.
“Refugia adalah areal di sekitar tanaman utama. Berfungsi sebagai mikrohabitat tempat berlindung dan berkembang serta menyediakan pakan alternatif berupa nektar dan polen bagi golongan serangga parasit,” jelas Khamim.

Metode ompara sangat sederhana. Refugia berfungsi untuk mengundang musuh alami lebih awal dan sebagai tempat hidup alternatif pada masa jeda antar musim tanam. Secara fungsional, agroekosistem dapat menyelesaikan “permasalahannya” sendiri. Secara alami. Anugerah Illahi.

Jenis-jenis tanaman yg direkomendasikan, lanjut Khamim, adalah yang cepat berbunga, durasi berbunganya panjang, warnanya menarik dan mudah ditanam dengan petawatan minimal serta letak tepungsarinya terjangkau oleh serangga dengan ukuran yg kecil. Misalnya, wijen, kenikir, bunga kertas, bunga matahari dan bunga pukul 8.

Di Lamongan, Khamim merintisnya sejak tahun 2013. Programnya: Manajemen Tanaman Sehat (MTS). “Alhamdulillah sudah ratusan hektar yg sudah menerapkan MTS. Tanaman tumbuh dengan sehat, tidak butuh pestisida kimia, kebutuhan pupuknya menurun dan hasil panennya meningkat,” tambah Khamim.(jto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *