Keren, Cara Ngelola Masjid di Yogya Ini Udah Kayak Perusahaan. Profesional Banget!

Ngomongin kelola masjid, pasti tidak lepas dari Dewan Kemakmuraan Masjid (DKM) alias Takmir Masjid yang setia menjaga masjid. Mulai dari bukain pintu masjid sebelum azan subuh berkumandang, sampai menutup pintu masjid usai shalat isya.

Biasanya sih, setiap masjid ramai dikunjungi jamaah di momen-momen hari besar, kayak Idul Fitri, Idhul Adha sampai pengajian besar. Tapi nggak untuk masjid Jogokarian yang berdiri di tengah kampung di Yogyakarta ini.

Simak cara pengurus masjid Jogokarian kelola masjid yang namanya sudah mendunia ini:

  1. Bermula dari wakaf pedagang batik dari Karangkajen Yogyakarta

Masjid Jogokarian pertama kali dibangun tahun 1966, hasil wakaf dari pedagang batik asal Karangkajen, Yogyakarta. Awalnya masjid bertempat di sebelah selatan kampung Jokogkariyan, seiring berjalannya waktu, atas usul dari takmir masjid, ustaz Amin Said posisi masjid dipindah ke tengah kampung. Sampai sekarang, masjid itu berdiri di sudut perempatan kampung.

Masjid Jogokarian di awal pendirian (foto: jamandulu.com)
  1. Memakmurkan dan memberdayakan masyarakat sekitar

Lewat manajemen yang gak kalah dari perusahaan, masjid Jogokarian sudah buktiin bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Masyarakat yang semula miskin dikasih bantuan dari masjid kemudian dikasih pelatihan dan seterusnya sampai akhirnya jadi warga yang berdaya. Diantaranya lewat program Bedah-bedah masjid dan bedah-bedah rumah.

Program “Bedah-bedah masjid”dari Baitul Mal Masjid Jogokarian (Foto: FP Masjid Jogokarian Yogyakarta)

 

  1. Jadi masjid percontohan  pengelolaan masjid di Indonesia

Setiap kegiatan di masjid yang sudah berusia lebih dari setengah abad ini nggak cuman konsep bolong di atas kertas. Makanya banyak pengurus masjid di Indonesia yang studi banding ke masjid Jogokarian bahkan perwakilan dari Eropa dan Palestina juga pernah singgah di masjid kampung ini.

Studi Banding Forum Sinergi Masjid Cinere dan Sekitarnya ke Masjid Jogokarian (Foto: masjidhkhatimahcinere.com)

 

  1. Shalat subuh rasa shalat jumat

Biasanya shalat subuh di masjid-masjid maksimal hanya 3 baris, tapi nggak untuk masjid Jogokarian. Lewat berbagai strategi yang cihuy, jumlah jamaah  shalat subuh tidak pernah sepi, jamaahnya membludak kayak salat jumat. Kerend!

Ilustrasi shalat subuh (Foto: Republika.co.id)

 

  1. Pelayanannya nggak kalah sama perusahaan

Selalu berprinsip, pengurus masjid bukan sekedar ngurusin masjid, tapi juga melayani jamaah. Masjid dijadikan pusat kegiatan masyarakat bukan cuman sekedar buat ritual ibadah harian

para pengurus masjid Jogokarian (Foto: masjidjogokarian.com)
  1. Punya cahsflow yang super KEWL

Bagi Pengurus masjid Jogokarian, setiap infak dari masyarakat ke masjid harus diputar untuk kepentingan jamaah. Uang yang masuk setiap minggunya tidak boleh mengendap (sisa infak nol rupiah) di rekening masjid, berapapun jumlah yang diterima setiap minggu selalu pekan yang diumumin cuman jumlahnya tapi gak ada efeknya ke masyarakat.

Dashboard progress qurban masjid Jogokarian (Foto; FP Masjid Jogokarian Yogyakarta)
  1. Punya strategi manajemen komunikasi yang keren

Bagi pengurus masjid Jogokarian, tugas takmir masjid nggak cuman ngurusin bangunan fisiknya, tapi juga mengelola manusianya juga. Makanya setiap periode tertentu pengurus membuat strategi manajemen komunikasi yang bertujuan untuk menjadikan masjid sebagai pesantren dan kampusnya masyarakat.

ilustrasi strategi (Foto: Freepik.com)

 

  1. Profesional, Modern tapi nggak hilang akar budayanya

Meski dikelola secara professional dan modern, masjid Jogokarian tidak ninggalin akar budayanya sendiri loh. Keberadaan masjid Jogokarian sudah membuktikan nggak ada pertentangan antara budaya/kearifan lokal dengan nilai-nilai Islam.

Logo Masjid Jogokariyan terdiri dari tiga bahasa. Arab, Indonesia, dan Jawa (Foto: Facebook/Amaris Sholeha)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *