Bibit Kebaikan di Startup Center Depok

Melalui studinya tentang Ekosistem StartUp di Indonesia Berkarya Institute dengan Natio Cultus menemukan fakta bahwa perkembangan startup yang pesat di Indonesia didominasi oleh sector kuliner dan fashion.

Sementara startup di bidang lain seperti pendidikan, agriculture, keuangan, kesehatan apalagi jasa logistik masih dipandang sebelah mata. Bahkan beberapa startup yang sebelumnya terbiasa dengan ranah online kini menggeser segmen bisnisnya ke ranah offline, salah satunya Berrybenka.

Menurut Ilham Habibie, founder & Chairman Berkarya Institute butuh waktu satu generasi atau sekitar 25 tahun agar bangsa Indonesia dapat menyatu dengan teknologi. Paling cepat 15-20 tahun lagi supaya masyarakat Indonesia tidak lagi asing dengan teknologi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Muhaimin Iqbal mendirikan Startup Center Depok yang menjadi tumbuh kembang bibit kebaikan anak muda yang kelak akan menjadi penerus peradaban bangsa. Salah satu peran Startup Center Depok adalah membuat kajian, research and development tentang peran Industri 3.0 yang mampu mengubah peradaban 30 tahun terakhir dan tantangan industri 4.0 yang akan merubah peradaban dalam dekade-dekade mendatang.

Diantara trobosan yang dibuat di Startup Center Depok adalah rumah masa depan yang ramah lingkungan. Iqbal menjelaskan bahwa rumah tersebut terbuat dari serat bambu yang diproses menggunakan pabrik dan bengkel-bengkel berteknologi tinggi, dengan mesin mesin CNC serta software – software yang canggih dan dirangkai dengan teknologi blockchain.

“Insya Allah akan segera menjadi standar baru rumah dan proses pengadaannya untuk kaum milenial Hasilnya selain rumah yang eco – friendly , rumah ini juga sehat dan menyehatkan penghuninya , memaksimalkan serapan air tanah untuk water security jangka panjang,” jelas Iqbal dalam ulasannya di Geraidinar.com.

Iqbal menambahkan, konsep rumah tersebut sangat bersahabat dengan gempa yaitu lentur terhadap goncangan dan meminimalisir biaya pemulihan bila harus menghadapi gempa yang besar . InSya Allah juga miminimize dampak gempa terhadap korban jiwa atau luka pada penghuninya . Karena industri 4.0 akan melibatkan kerja keroyokan dari para profesional dibidangnya masing masing ,

Tidak hanya rumah, berbagai bidang juga Iqbal tuangkan ide dan gagasannya tentang berbagai sector, termasuk di sector pertanian. Harapannya, melalui iGrow target SDGs no 2 yaitu Zero Hunger 2030 dapat diwujudkan.

Untuk mencapai harapan itu, Iqbal dan tim di Startup Center Depok membuat pipeline. Seperti Program Madu Deli, yaitu penanaman buah local khas Indonesia (buah Madu Deli) di pot-pot perumahan dan perkantoran. Bahkan Peserta iGrow dapat mengambil tanamannya yang sudah siap berbuah untuk ditanam di rumah sendiri.

Program lainnya adalah Kelapa Industri yang menyediakan delicious and nutritious gluten-free desiccated coconut (DC), salah satu calon kuat pengganti tepung yg bergluten di pasaran. Masyarakat bisa ikut memiliki kebun kelapa maupun industrinya, mulai dari 0.5-1.5 ha sertifikat Hak Milik di Banten. Penangkaran burung dara pedaging – sumber protein masa depan yg lebih make sense ketimbang gagasan insect protein di Jepang dan Synthetic Meat di AS.

“Dan ancang-ancang utk siap bersaing di era IoT, insyaAllah kita bukan lagi sekedar pasar dan pengguna. Komponen dasar utk sensor IoT-pun siap kita produksi. Untuk memberikan ‘Agricultural Dashboard’ bagi para petani di dunia,” tulis Muhaimin Iqbal dalam akun LinkedIn nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *