Bermimpi Perusahaan Logistik RI Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

MESKIPUN di bidang jasa pengiriman logistik Tanah Air, PT Jalur Nugraha Ekakurir atau yang biasa disingkat JNE sudah menjadi raja, Managing Director JNE Johari Zein masih memiliki sederet mimpi. Salah satunya adalah membuat JNE tuan rumah di negeri sendiri saat pasar bebas ASEAN di 2015 mendatang.

Sebagai perusahaan yang berorientasi ke depan, Johari, lelaki kelahiran Medan yang tahun ini genap berusia 59 tahun ini berambisi, perusahaannya bisa go international, khususnya di bidang jasa pengiriman logistik yang menjadi core bisnisnya.

“Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, itu yang sering camkan kepada karyawan,” ujar Johari ketika mengunjungi redaksi Okezone beberapa waktu lalu.

Menjadi tuan rumah di negeri sendiri, menyetarakan diri dengan perusahaan jasa pengiriman internasional adalah pekerjaan rumah yang menjadi mimpinya.

Johari menyebut, mimpi ini bukan sekadar mimpi siang bolong. Bagaimana tidak, perusahaannya, setiap tahun tumbuh sekira 40 persen. Padahal, industri pengiriman logistik hanya tumbuh 20 persen.

Pendapatannya di 2011 mencapai Rp700 miliar dan di 2012, pendapatan ini sudah terlampaui di kuartal tiga. Johari optimistis pendapatan sebesar Rp1 triliun bisa dikantongi JNE. Di seluruh Indonesia, pencapaian sales mencapai 3.000 unit dengan jumlah karyawan lebih dari 5.000 orang.

“Perkembangan online shop di beberapa waktu terakhir mengerek pendapatan kami. 70 persen pendapatan kami masih didorong oleh pengiriman domestik khususnya ritel dari online shop ini,” jelas lulusan perhotelan dan pariwisata Universitas Trisakti ini.

Mimpi besar Johari memang kian menunjukkan bentuknya. Namun, bukan Johari namanya kalau berhenti. JNE, terus melakukan inovasi dan perbaikan pelayanan. Salah satunya adalah layanan Pesanan Oleh-Oleh Nusantara (Pesona) yang kini menjadi trademark JNE.

“Makanan itu sesuatu yang istimewa sehingga banyak disukai. Apalagi sifatnya personal. Ke depan, nanti akan kita kembangkan Pesona dengan sistem web biar lebih gampang, ada gambar (makanannya) juga,” ungkap dia.

Berbeda dengan pengusaha lain yang sering mengeluh terhadap berbagai kendala yang ada, JNE, sebut Johari, lebih memilih untuk menyiasati hambatan yang ada. Kendala besar yang sering terjadi dan mengganggu bisnisnya, misalnya saja kendala infrastruktur.

“Kita memang mengimbau pemerintah membereskan infrastruktur karena dengan itu, distribusi lebih baik dan bisnis akan lebih baik. Dampaknya banyak, produk cepat laku, uang bisa lebih berputar dan pertumbuhan akan lebih cepat,” tambah ayah dari Keishia Safitri ini.

Meski begitu, Johari tidak selalu menuntut banyak pada pemerintah. Bagi Johari, mengeluh pada pemerintah ibarat petinju yang lari ke pelatihnya setelah dipukuli. “Kita berikan yang terbaik, kendala kita selesaikan,” optimisnya.

Salah satu langkahnya dalam mengatasi masalah infrastruktur seperti penuhnya bandara dan terlambatnya pesawat, adalah dengan menyiapkan sejumlah rencana darurat yang sudah masuk dalam Standar Operasional Pelayanan (SOP).

“Misalnya, kita dapat layanan super speed yang dalam satu hari sampai ke penerima. Namun, karena suatu hal, kargo pesawat penuh dan tidak terangkut, itu SOP dari kami langsung dikirimkan pakai pesawat lainnya, jadi level pengiriman naik tanpa tambah biaya. Kalau belum ke kirim juga, bisa orang JNE yang beli tiket sendiri ke tujuannya untuk mengantarkan. Ini sudah otomatis,” jelas Johari.

Selain itu, JNE juga terus melakukan pembenahan baik di sisi teknologi, infrastruktur, IT dan lainnya agar siap menghadapi pasar bebas.

“Jadi, ketika pasar bebas Asean tahun 2015 mendatang, asing masuk Indonesia, kita bisa masuk. Kita punya teknologi yang sama dengan jasa perusahaan logistik asing yang masuk ke sini. Kita harus jadi tuan rumah di negeri sendiri,” janjinya.

Meskipun secara bisnis JNE harus terus berkembang, Johari menyebut pengembangan sisi humanisme karyawan tidak dilupakan management JNE. Misalnya saja kewajiban memberikan 2,5 persen dari pendapatan untuk zakat. Selain itu, di JNE juga ada program umroh gratis bagi karyawan.

“Pemilik kita, H Soeprapto dari awal usaha sudah mengajarkan syukuran di panti asuhan bersama anak yatim, jadi sampai sekarang kewajiban CSR itu sudah bukan masalah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *